TEKNIK PEMBELAJARAN
Metode
inkuiri adalah metode pembelajaran dimana siswa dituntut untuk lebih aktif
dalam proses penemuan, penempatan siswa lebih banyak belajar sendiri serta
mengembangkan keaktifan dalam memecahkan masalah. Proses inquiri adalah suatu
proses khusus untuk meluaskan pengetahuan melalui penelitian. Oleh karena itu
metode inquiri kadang-kadang disebut juga metode ilmiahnya penelitian. Metode
inquiri adalah metode belajar dengan inisiatif sendiri, yang dapat dilaksanakan
secara individu atau kelompok kecil. Situasi inquiri yang ideal dalam kelas
matematika terjadi, apabila murid-murid merumuskan prinsip matematika baru
melalui bekerja sendiri atau dalam grup kecil dengan pengarahan minimal dari
guru. Peran utama guru dalam pelajaran inquiri sebagai metoderator (Sutrisman,
Tambunan, 1987 : 6.39). Metode inquiri merupakan metode pengajaran yang
berusaha meletakan dasar dan mengembangkan cara befikir ilmiah. Dalam penerapan
metode ini siswa dituntut untuk lebih banyak belajar sendiri dan berusaha
mengembangkan kreatifitas dalam pengembagnaan masalah yang dihadapinya sendiri.
Metode mengajar inquiri akan menciptakan kondisi belajar yang efektif dan
kundusif, serta mempermudah dan memperlancar kegiatan belajar mengajar (Sudjana,
2004 : 154).
Sedangkan
asumsi-asumsi yang mendasari metode inquiri adalah sebagai berikut:
·
Keterampilan berpikir kritis dan
berpikir dedukatif sangat diperlukan pada waktu mengumpulkan evidensi yang
dihubungkan dengan hipotesis yang telah dirumuskan oleh kelompok.
·
Keuntungan para siswa dari
pengalaman-pengalaman kelompok di mana mereka berkomunikasi, berbagai tanggung
jawab dan bersama-sama mencari pengetahuan.
·
Kegiatan-kegiatan belajar yang disajikan
dalam semangat berbagi inquri menambah motivasi dan memajukan partisipasi aktif
(Hamalik, 2003 : 64).
Sedangkan
menurut pendapat Sudjana (2004 : 155) dalam menerapkan metode inquiri ada
beberapa tahapan yaitu :
·
Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa
·
Menetapkan jawaban sementara atau lebih
dikenal dengan istilah hipotesis
·
Siswa mencari informasi, data, fakta
yang diperlukan untuk menjawab permasalahan atau hipotesis
·
Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi
· Mengaflikasikan kesimpulan/generalissi dalam
situasi baru.0
Penerapan
metode inquiri dalam proses belajar mengajar menuntut keaktifan siswa dalam
belajar individu, maupun kelompok. Mereka harus memahami dan menyelesaikan
soal-soal yang terkait dengan himpunan bagian.
a. Kelebihan
Metode Inquiri
1. Siswa
aktif dalam kegiatan belajar, sebab ia berfikir sebab ia berfikir dan
menggunakan kemampuan untuk hasil akhir
2. Perkembangan
cara berfikir ilmiah, seperti menggali pertanyaan, mencari jawaban, dan
menyimpulkan / memperoses keterangan dengan metode inquiri dapat dikembangkan
seluas-luasnya
3. Dapat
melatih anak untuk belajar sendiri dengan positif sehingga dapat mengembangkan
pendidikan demokrasi.
b. Kelemahan
metode inquiri
1. Belajar
mengajar dengan metode inquiri memerlukan kecerdasarn anak yang tinggi. Bila
anak kurang cerdas, hasilnya kurang efektif
2. Metode
inquri kurang cocok pada anak yang usianya terlalu muda, misalnya anak SD.
Berikut ini langkah-langkah penggunaan Strategi Pembelajaran Inquiri
menurut Wina Sajaya (2012: 201) adalah : (1) orientasi, (2) merumuskan masalah,
(3) mengajukan hipotesis, (4) mengumpulkan data, (5) menguji hipotesis, (6)
merumuskan kesimpulan. Lebih lanjut Wina Sanjaya menjelaskan langkah-langkah
penggunaan SPI sebagai berikut :
1.
Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim
pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengondisikan agar siswa
siap melaksanakan proses pembelajaran. Berbeda pada tahapan prepation dalam
strategi pembelajran ekspositori (SPE) sebagai langkah untuk mengkondisikan
agar siswa siap menerima pelajaran, pada langkah orientasi dalam SPI, guru
merangsang dan mengajak siswa untuk berfikir memecahkan masalah. Langkah
orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan SPI sangat tergantung
pada kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajran akan berjalan
dengan lancar. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan orientasi ini
adalah :
·
Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang
diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
·
Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan
oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah
inkuiri serta tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah inkuiri serta
tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan masalah sampai dengan
merumuskan kesimpulan.
·
Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar. Hal
ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar.
2.
Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan
yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang
menantang siswa untuk memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam
rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya,
dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban
itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui
proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai
upaya mengembangkan mental melalui proses tersebut siswa akan memperoleh
pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui
proses berfikir. Dengan demikian, teka-teki yang menjadi masalah dalam
berinkuiri adalah teka-teki yang mengandung konsep yang jelas yang harus dicari
dan ditemukan. Ini penting dalam pembelajaran inkuiri. Beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam merumuskan masalah, diantaranya :
·
Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa. Siswa
akan memiliki motivasi belajar yang tinggi manakala dilibatkan dalam merumuskan
masalah yang hendak dikaji. Dengan demikian, guru sebaiknya tidak merumuskan
sendiri masalah pembelajaran, guru hanya memberikan topik yang akan dipelajari,
sedangkan bagaimana rumusan masalah yang sesuai dengan topik yang telah
ditentukan sebaiknya diserahkan kepada siswa.
·
Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung
teka-teki yang jawabannya pasti. Artinya, guru perlu mendorong agar siswa dapat
merumuskan masalah yang menurut guru jawaban sebenarnya sudah ada, tinggal
siswa mencari dan mendapatkan jawabannya secara pasti.
·
Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang
sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa. Artinya, sebelum masalah itu dikaji
lebih jauh melalui proses inkuiri, guru perlu yakin terlebih dahulu bahwa siswa
sudah memiliki pemahaman tentang konsep-konsep yang ada dalam rumusan masalah.
Jangan harapkan siswa dapat melakukan tahapan inkuiri selanjutnya, manakala ia
belum paham konsep-konsep yang terkandung dalam rumusan masalah.
3.
Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang
dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya.
Kemampuan atau potensi individu untuk berfikir pada dasarnya sudah dimili sejak
individu itu lahir. Potensi berfikir itu dimulai dari kemampuan setiap individu
untuk menebak atau mengira-ngira (berhipotesis) dari suatu permasalahan.
Manakala individu dapat membuktikan tebakannya, maka ia akan sampai pada posisi
yang bisa mendorong untuk berfikir lebih lanjut. Oleh sebab itu, potensi untuk
mengembangkan kemampauan menebak pada setiap individu harus dibina. Salah satu
cara yang dapat dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak
(berhipotesis) pada setiap anak adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan
yang dapat mendorong siswa untuk dapat merumuskan jawaban sementara atau dapat
merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan jawaban dari suatu permasalahan yang
dikaji, perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus
memiliki landasan berfikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu
bersifat rasional dan logis. Kemampuan berfikir logis itu sendiri akan sangat
dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimliki serta keluasan pengalaman.
Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit
mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis.
4.
Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan
untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri,
mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam
pengembangan intelektual. Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan
motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan
menggunakan potensi berfikirnya. Oleh sebab itu, tugas dan peran guur dalam
tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa
untuk berfikir mencari informasi yang dibutuhkan. Sering terjadi kemacetan
berinkuiri adalah manakala siswa tidak apresiasif terhadap pokok permasalahan.
Tidak apresiasif itu biasanya ditunjukkan oleh gejala-gejala ketidak
bergairahan dalam belajar. Manakala guru menemukan gejala-gejala ketidak
semacam ini, maka guru hendaknya secara terus-menerus memberikan dorongan
kepada siswa untuk belajar melalui penyuguhan berbagai jenis pertanyaan secara
merata kepada seluruh siswa sehingga mereka terangsang untuk berfikir.
5. Menguji
Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima
sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
Yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah mencari tingkat keyakinan siswa
atas jawaban yang diberikan. Disamping itu, menguji hipotesis juga berarti
mengembangkan kemampuan berfikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang
diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh
data yang ditemukan dan dapat dipertanggung-jawabkan.
6.
Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh
berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Menurumuskan kesimpulan merupakan
gong-nya dalam proses pembelajaran. Sering terjadi, oleh karena banyaknya data
yang diperoleh, menyebabkan kesimpulan yang dirumuskan tidak berfokus terhadap
masalah yang hendak dipecahkan. Karena itu, untuk mencapai kesimpulan yang
akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data yang relevan.
TEKNIK
PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME
Model
pembelajaran konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses
pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan)
diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat
diatasi melalui pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui
pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya. Konstruktivisme
merupakan pandangan filsafat yang pertama kali dikemukakan oleh Giambatista
Vico tahun 1710, ia adalah seorang sejarawan Italia yang mengungkapkan
filsafatnya dengan berkata ”Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia
adalah tuan dari ciptaan”. Dia menjelaskan bahwa “mengetahui” berarti
“mengetahui bagaimana membuat sesuatu”.Ini berarti bahwa seseorang baru
mengetahui sesuatu jika ia dapat menjelaskan unsur-unsur apa yang membangun
sesuatu itu (Suparno, 1997:24).
Berikut ini
akan dikemukakan ciri-ciri pembelajaran yang konstruktivis menurut beberapa
literatur yaitu sebagai berikut.
·
Pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman atau
pengetahuan yang telah ada sebelumnya.
·
Belajar adalah merupakan penafsiran personal tentang
dunia.
·
Belajar merupakan proses yang aktif dimana makna
dikembangkan berdasarkan pengalaman.
·
Pengetahuan tumbuh karena adanya perundingan
(negosiasi) makna melalui berbagai informasi atau menyepakati suatu pandangan
dalam berinteraksi atau bekerja sama dengan orang lain.
Kegiatan
belajar adalah kegiatan yang aktif, dimana siswa membangun sendiri
pengetahuannya. Siswa mencari arti sendiri dari yang mereka pelajari, ini
merupakan proses menyesuaikan konsep-konsep dan ide-ide baru dengan kerangka
berfikir yang telah ada dalam pikiran mereka. Dalam hal ini siswa membentuk
pengetahuan mereka sendiri dan guru membantu sebagai mediator dalam proses
pembentukan itu.
Proses
perolehan pengetahuan akan terjadi apabila guru dapat menciptakan kondisi
pembelajaran yang ideal yang dimaksud disini adalah suatu proses belajar
mengajar yang sesuai dengan karakteristik IPA dan memperhatikan perspektif
siswa sekolah dasar. Pembelajaran yang dimaksud diatas adalah pembelajaran yang
mengutamakan keaktifan siswa, menerangkan pada kemampuan minds-on dan hands–on serta
terjadi interaksi dan mengakui adanya konsepsi awal yang dimiliki siswa melalui
pengalaman sebelumnya.
Dalam
pelaksanaan teori belajar konstruktivisme ada beberapa saran yang berkaitan
dengan rancangan pembelajaran yaitu sebagai berikut :
·
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan
pendapatnya dengan bahasa sendiri.
· Memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang
pengalamannya sehingga lebih kreatif dan imajinatif.
·
Memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan
baru.
·
Memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan
yang telah dimiliki siswa.
·
Mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan
mereka.
·
Menciptakan lingkungan yang kondusif.
Metode dalam
Pembelajaran Konstruktivisme
1.
Metode "sindikat" sangat cocok untuk topik
yang dapat dipelajari sendiri oleh pebelajar. Mereka bekerja dalam kelompok,
masing-masing anggota mempelajari satu aspek masalah secara mendalam sebelum
bertemu dengan anggota lain dalam sindikatnya, memecahkan masalah secara
bersama-sama secara intensif
2.
Pembelajaran kelompok kecil biasanya terdiri dari 4-6
pebelajar; mereka saling mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah sebelum
akhirnya mengambil kesimpulan. Beberapa pebelajar kurang berani berbicara dalam
kelompok seukuran itu.
3.
Sebagai jalan keluarya pembelajar perlu sekali-sekali
membentuk "triad", yaitu kelompok yang hanya terdiri dari tiga orang.
Dengan kelompok kecil itu mau tidak mau pebelajar akan berani berbicara.
4.
"Praktikum" tidak selalu berlangsung di
laboratorium dengan menggunakan alat-alat yang canggih, melainkan bisa juga
berlangsung di alam sekitar dan masyarakat.
Kegiatan
praktikum hendaknya diarahkan untuk membekali pebelajar dengan:
Ø keterampilan
praktikum dasar
Ø pengenalan
alat-alat dan teknik pengukuran standar
Ø keterampilan melakukan pengamatan
Ø intrepretasikan
data
Ø penulisan
laporan
Ø keterampilan
merencanakan percobaan
Ø minat
terhadap ilmu
TEKNIK PEMBELAJARAN SETS(SAINS, LINGKUNGAN, TEKNOLOGI,
DAN MASYARAKAT)
Secara umum
dapat dikatakan bahwa pendekatan pembelajaran SETS memiliki
makna pengajaran sains yang dikaitkan dengan unsur lain dalam SETS, yakni
lingkungan teknologi, dan masyarakat. Sains tidak berdiri sendiri di masyarakat
karena keterkaitan dan ketergantungannya pada unsur-unsur tersebut. Dalam
konteks SETS, perkembangan sains dianggap dipengaruhi oleh perubahan pada
lingkungan, teknologi, juga kepentingan serta harapan masyarakat. Pada saat
yang sama hendaknya dipahami bahwa perkembangan sains itu sendiri juga memiliki
pengaruh kepada perkembangan teknologi, masyarakat serta lingkungan.
Pembelajaran
SETS, tak hanya memperhatikan isu masyarakat dan lingkungan yang telah ada dan
mengaitkannya dengan unsur lain, akan tetapi juga pada cara melakukan sesuatu
untuk kepentingan masyarakat dan lingkungan itu yang memungkinkan kehidupan
masyarakat serta kelestarian lingkungan terjaga sementara kepentingan lain
terpenuhi. Itulah sebabnya kenapa pembelajaran SETS memberi perhatian
tinggi pada keterkaitan serta keterpaduan antar keempat unsur SETS beserta
urutannya. Dalam arti untuk membuat konsep sains berguna dalam teknologi untuk
memenuhi keperluan masyarakat, maka akibatnya pada lingkungan perlu mendapat
perhatian utama.
Apabila
akibat pada lingkungan (baik fisik maupun mental) sangat tidak menguntungkan,
pembelajaran SETS tak menganjurkan penggunaan konsep sains itu diteruskan ke
bentuk teknologi yang dimaksud. Sebaliknya apabila transformasi sains ke
teknologi tersebut dianjurkan untuk diteruskan guna memenuhi kepentingan
masyarakat dalam konteks SETS, unsur lingkungan merupakan filter dari unsur S
(sains) untuk diubah menjadi T (teknologi) dalam memenuhi kepentingan M
(masyarakat).
TEKNIK PEMBELAJARAN PEMECAHAN MASALAH
Metode
pemecahan masalah adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong
peserta didik untuk mencari dan memecahkan suatu masalah/persoalan dalam rangka
pencapaian tujuan pengajaran. Metode ini diciptakan seorang ahli didik
berkebangsaan Amerika yang bernama Jhon Dewey. Metode ini
dinamakan Problem Method. Sedangkan Crow&Crow dalam
bukunya Human Development and Learning, mengemukakan nama metode ini
dengan Problem Solving Method.
Sebagai prinsip
dasar dalam metode ini adalah perlunya aktifitas dalam mempelajari sesuatu.
Timbulnya aktifitas peserta didik kalau sekiranya guru menjelaskan manfaat
bahan pelajaran bagi peserta didik dan masyarakat.
Dalam
bukunya “school and society” John Dewey mengemukakan bahwa keaktifan peserta
didik di sekolah harus bermakna artinya keaktifan yang disesuaikan dengan
pekerjaan yang biasa dilakukan dalam masyarakat.Alasan penggunaan metode
problem solving bagi peneliti adalah dengan penggunaan metode problem solving
siswa dapat bekerja dan berpikir sendiri dengan demikian siswa akan dapat
mengingat pelajarannya dari pada hanya mendengarkan saja.
Untuk
memecahkan suatu masalah John Dewey mengemukakan sebagai berikut:
·
Mengemukakan persoalan/masakah. Guru menghadapkan
masalah yang akan dipecahkan kepada peserta didik.
·
Memperjelas persoalan/masalah. Masalah tersebut
dirumuskan oleh guru bersama peserta didiknya.
·
Melihat kemungkinan jawaban peserra didik bersama guru
mencari kemungkinan-kemungkinan yang akan dilaksanakan dalam memecahkan
persoalan.
·
Mencobakan kemungkinan yang dianggap menguntungkan.
Guru menetapkan cara pemecahan masalah yang dianggap paling tepat.
·
Penilaian cara yang ditempuh dinilai, apakah dapat
mendatangkan hasil yang diharapkan atau tidak.
Langkah-langkah Pelaksanaan Metode
Pemecahan Masalah (Problem Solving)
1.
Persiapan
a.
Bahan-bahan yang akan dibahas terlebih dahulu
disiapkan oleh guru.
b.
Guru menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan sebagai
bahan pembantu dalam memecahkan persoalan.
c.
Guru memberikan gambaran secara umum tentang cara-cara
pelaksanaannya.
d.
Problem yang disajikan hendaknya jelas dapat
merangsang peserta didik untuk berpikir.
e.
Problem harus bersifat praktis dan sesuai dengan
kemampuan peserta didik
2.
Pelaksanaan
a.
Guru menjelaskan secara umum tentang masalah yang
dipecahkan.
b.
Guru meminta kepada peserta didik untuk mengajukan
pertanyaan tentang tugas yang akan dilaksanakan.
c.
Peserta didik dapat bekerja secara individual atau
berkelompok.
d.
Mungkin peserta didik dapat menemukan pemecahannya dan
mungkin pula tidak.
e.
Kalau pemecahannya tidak ditemukan oleh peserta didik
kemudian didiskusikan mengapa pemecahannya tak ditemui.
f.
Pemecahan masalah dapat dilaksanakan dengan pikiran.
g.
Data diusahakan mengumpulkan sebanyak-banyaknya
untuk analisa sehingga dijadikan fakta.
h.
Membuat kesimpulan.
TEKNIK
PEMBELAJARAN DISKUSI
Metode pembelajaran merupakan suatu cara yang digunakan guru untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Terdapat berbagai metode yang dapat digunakan oleh guru
dalam proses pembelajaran. Guru harus memahami berbagai metode pembelajaran
agar guru dapat memilih dan menggunakan metode yang tepat sesuai dengan materi
dan tujuan pembelajarannya. Metode pembelajaran yang digunakan diharapkan mampu
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam proses berpikir dan mengungkapkan
pendapat. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan
peserta didik yaitu metode diskusi. Diskusi merupakan komunikasi seseorang
berbicara satu dengan yang lain ,saling berbagi gagasan dan pendapat. Menurut
Suryosubroto (1997: 179), adalah suatu percakapan ilmiah oleh beberapa orang
yang bergabung dalam suatu kelompok, untuk saling bertukar pendapat tentang
suatu masalah atau bersama-sama mencari pemacahan mendapatkan jawaban dan
kebenaran atas suatu masalah. Metode diskusi mendorong siswa untuk berdialog
dan bertukar pendapat, dengan tujuan agar siswa dapat terdorong untuk berpartisipasi
secara optimal, tanpa ada aturan-aturan yang terlalu keras, namun tetap harus
mengikuti etika yang disepakati bersama. Diskusi digunakan oleh guru apabila
hendak:
·
memanfaatkan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh
siswa
·
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan
kemampuannya masing-masing
·
memperoleh umpan balik dari para siswa tentang apakah
tujuan yang telah dirumuskan telah tercapai
·
membantu para siswa balajar berpikir teoretis dan
praktis lewat berbagai mata pelajaran dan kegiatan sekolah
·
membantu para siswa belajar menilai kemampuan dan
peranan diri sendiri maupun teman-temannya (orang lain)
·
mengembangkan motivasi untuk belajar lebih lanjut
Pemanfaatan diskusi oleh guru mempunyai arti untuk memahami apa yang ada
didalam pemikiran siswa dan bagaimana memproses gagasan dan informasi yang
diajarkan melalui komunikasi yang terjadi selama pembelajaran yang berlangsung
baik antar siswa. Sehingga diskusi menyediakan tatanan sosial dimana guru dapat
membantu siswa menganalisis proses berpikir mereka.
Agar penggunaan diskusi berhasil
dengan efektif, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Langkah persiapan
Hal-hal yang
harus diperhatikan dalam persiapan diskusi diantaranya:
·
Merumuskan tujuan yang akan dicapai, baik tujuan yang
bersifat umum maupun tujuan khusus.
·
Menentukan jenis diskusi yang dapat dilaksanakan
sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.
·
Menetapkan masalah yang akan dibahas.
·
Mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan
teknis pelaksanaan diskusi.
2. Pelaksanaan diskusi
Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan diskusi adalah:
·
Memeriksa segala persiapan yang dianggap dapat memengaruhi
kelancaran diskusi
·
Memberikan pengarahan sebelum dilaksanakan diskusi.
·
Melaksanakan diskusi sesuai dengan aturan main yang
telah ditetapkan.
·
Memberikan kesempatan yang sama kepada setiap peserta
diskusi untuk mengeluarkan gagasan dan ide-idenya.
·
Mengendalikan pembicaraan kepada pokok persoalan yang
sedang dibahas.
3. Menutup diskusi
Akhir dari
proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi hendaknya dilakukan hal-hal
sebagai berikut:
·
Membuat pokok-pokok pembahasan sebagai kesimpulan
sesuai dengan hasil diskusi.
·
Me-review jalannya diskusi dengan meminta pendapat
dari seluruh peserta sebagai umpan balik untuk perbaikan selanjutnya.
Adapun
kegiatan guru dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:
1.
Guru menetapkan suatu pokok atau problem yang akan
didiskusikan atau guru meminta kepada siswa untuk mengemukakan suatu pokok atau
problem yang akan didiskusikan.
2.
Guru menjelaskan tujuan diskusi.
3.
Guru memberikan ceramah dengan diselingi tanya jawab
mengenai materi pelajaran yang didiskusikan.
4.
Guru mengatur giliran pembicara agar tidak semua siswa
serentak berbicara mengeluarkan pendapat.
5.
Menjaga suasana kelas dan mengatur setiap pembicara
agar seluruh kelas dapat mendengarkan apa yang sedang dikemukakan.
6.
Mengatur giliran berbicara agar jangan siswa yang
berani dan berambisi menonjolkan diri saja yang menggunakan kesempatan untuk
mengeluarkan pendapatnya.
7.
Mengatur agar sifat dan isi pembicaraan tidak
menyimpang dari pokok/problem.
8.
Mencatat hal-hal yang menurut pendapat guru harus
segera dikoreksi yang memungkinkan siswa tidak menyadari pendapat yang salah.
9.
Bukan lagi menjadi pembicara utama melainkan menjadi
pengatur pembicaraan.
Kegiatan
siswa dalam pelaksanaan metode diskusi sebagai berikut:
1.
Menelaah topik/pokok masalah yang diajukan oleh guru
atau mengusahakan suatu problem dan topik kepada kelas.
2.
Ikut aktif memikirkan sendiri atau mencatat data dari
buku-buku sumber atau sumber pengetahuan lainnya, agar dapat mengemukakan
jawaban pemecahan problem yang diajukan.
3.
Mengemukakan pendapat baik pemikiran sendiri maupun
yang diperoleh setelah membicarakan bersama-sama teman sebangku atau
sekelompok.
4.
Mendengar tanggapan reaksi atau tanggapan kelompok
lainnya terhadap pendapat yang baru dikemukakan.
5.
Mendengarkan dengan teliti dan mencoba memahami
pendapat yang dikemukakan oleh siswa atau kelompok lain.
6.
Menghormati pendapat teman-teman atau kelompok lainnya
walau berbeda pendapat.
7.
Mencatat sendiri pokok-pokok pendapat penting yang
saling dikemukakan teman baik setuju maupun bertentangan.
8.
Menyusun kesimpulan-kesimpulan diskusi dalam bahasa
yang baik dan tepat.
9.
Ikut menjaga dan memelihara ketertiban diskusi.
10. Tidak
bertujuan untuk mencari kemenangan dalam diskusi melainkan berusaha mencari
pendapat yang benar yang telah dianalisa dari segala sudut pandang.
Dalam metode
pembelajaran diskusi terdapat berbagai macam diskusi. Ditinjau dari bentuknya,
metode diskusi dapat dibedakan sebagai berikut:
Ø WholeGroup,
merupakan bentuk diskusi kelompok besar (pleno, klasikal,paripurna dsb.)
Ø Buzz Group,
merupakan diskusi kelompok kecil yang terdiri dari (3-6) orang.
Ø Panel,
merupakan diskusi kelompok kecil (3-6) orang yang mendiskusikan objek tertentu
dengan cara duduk melingkar yang dipimpin oleh seorang moderator
Ø Syndicate
Group, merupakan bentuk diskusi dengan cara membagi kelas menjadi beberapa
kelompok kecil yang terdiri dari (3-6) orang yang masing-masing melakukan
tugas-tugas yang berbeda.
Ø Brainstorming,
merupakan diskusi iuran pendapat, yakni kelompok menyumbangkan ide baru tanpa
dinilai, dikritik, dianalisis yang dilaksanakan dengan cepat (waktu pendek).
Ø Simposium,
merupakan bentuk diskusi yang dilaksanakan dengan membahas berbagai aspek
dengan subjek tertentu. Dalam kegiatan ini sering menggunakan sidang paralel,
karena ada beberapa orang penyaji. Setiap penyaji menyajikan karyanya dalam
waktu 5-20 menit diikuti dengan sanggahan dan pertanyaan dari audience/peserta.
Bahasan dan sanggahan dirumuskan oleh panitia sebagai hasil simposium.
Ø Informal
Debate, merupakan diskusi dengan cara membagi kelas menjadi 2 kelompok yang pro
dan kontra yang dalam diskusi ini diikuti dengan tangkisan dengan tata tertib
yang longgar agar diperoleh kajian yang dimensi dan kedalamannya tinggi.
Ø Seminar,
pada umumnya merupakan pertemuan untuk membahas masalah tertentu dengan
prasaran serta tanggapan melalui diskusi dan pengkajian untuk mendapatkan suatu
konsensus/keputusan bersama. Masalah yang dibahas pada umumnya terbatas dan
spesifik/tertentu, bersifat ilmiah dan subject approach.
Ø Lokakarya/widya
karya, merupakan pengkajian masalah tertentu melalui pertemuan dengan penyajian
prasaran dan tanggapan serta diskusi secara teknis mendalam. Dalam diskusi ini
bila perlu diikuti dengan demonstrasi/peragaan masalah tersebut.
Model
diskusi yang diterapkan di kelas lebih efektif dengan menggunakan model Buzz
Group atau diskusi kelompok. Guru meminta peserta didik membentuk
kelompok-kelompok yang terdiri dari 3-6 siswa untuk mendiskusikan tentang
permasalahan yang menjadi topik bahasan.
TEKNIK PEMBELAJARAN TANYA JAWAB
Metode tanya-jawab ialah penyampaian pelajaran dengan
cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab. Dalam metode tanya-jawab
terdapat kelemahan dan kelebihan, sehingga seorang guru benar-benar harus
memperhatikan kesesuaian materi pelajaran dengan metode yang akan digunakan.
Dalam menggunakan metode tanya-jawab, ada beberapa hal
yang harus diperhatikan. Pertama, jenis pertanyaan; kedua, teknik mengajukan
pertanyaan; ketiga, memperhatikan syarat-syarat penggunaan metode tanya-jawab
sehingga dapat dirumuskan langkah-langkah yang benar;
keempat, memperhatikan prinsip-prinsip penggunaan metode tanya jawab, di
antaranya prinsip keserasian, integrasi, kebebasan, dan individual. Prinsip-prinsip
ini adalah dasar atau landasan yang bisa dipergunakan dalam metode tanya-jawab.
Di samping itu, metode tanya-jawab juga bisa dikombinasikan dengan metode lain,
seperti metode ceramah, pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain
Langkah-Langkah Tanya Jawab
1. Persiapan
Ø menentukan
topik
Ø merumuskan
tujuan pembelajaran khusus (TPK)
Ø menyusun pertanyaan-pertanyaan secara tepat
sesuai dengan TPK tertentu
Ø mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan yang
mungkin diajukan siswa
2. Pelaksanaan
Ø Menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran
khusus (TPK)
Ø Mengkomunikasikan penggunaan metode tanya jawab (siswa tidak hanya bertanya tetapi juga
menjawab pertanyaan guru maupun siswa yang lain)
Ø Guru memberikan permasalahan sebagai bahan
apersepsi
Ø Guru
mengajukan pertanyaan keseluruh kelas
Ø Guru harus memberikan waktu yang cukup untuk
memikirkan jawabannya, sehingga dapat merumuskan secara
sistematis
Ø Tanya jawab harus berlangsung dalam suasana
tenang, dan bukan dalam suasana yang tegang dan penuh persaingan
yang tak sehat di antara parasiswa
Ø Pertanyaan
dapat ditujukan pada seorang siswa atau seluruh kelas,
guru perlu menggugah siswa yang pemalu atau pendiam,
sedangkan siswa yang pandai dan berani menjawab perlu
dikendalikan untuk memberi kesempatan pada yang lain
Ø Guru mengusahakan
agar setiap pertanyaan hanya berisi satu masalah saja
Ø Pertanyaan
ada beberapa macam
TEKNIK PEMBELAJARAN PENUGASAN
Salah satu metode yang
digunakan dalam pembelajaran adalah metode resitasiterstruktur.
Imansjah Alipandie (1984:91) dalam bukunya yang berjudul “Didaktik Metodik
Pendidikan Umum” mengemukakan bahwa :”Metode resitasi terstruktur
adalah cara untuk mengajar yang dilakukan dengan jalan
memberi tugas khusus kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu di luar
jam pelajaran. Pelaksanaannya bisa dirumah, diperpustakaan, dilaboratorium, dan
hasilnya dipertanggungjawabkan.”
Metode resitasi terstruktur
merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana
guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam
pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar
mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas.
Pemberian tugas ini
merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan
pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang
harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas.
Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu
dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan
kegiatan belajar mengajar tersebut. Rostiyah (1991:32) menyatakan bahwa untuk
mengatasi keadaan seperti diatas, guru perlu memberikan tugas-tugasdiluar
jam pelajaran. Sumiati Side (1984:46) menyatakan bahwa
pemberian tugas-tugas berupa PR mempunyai pengaruh yang positif terhadap
peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia.
Adapun
prosedur metode resitasi terstruktur yang perlu diperhatikan
dalam melakukan pengajaran antara lain : memperdalam pengertian siswa terhadao
pelajaran yang telah diterima, melatih siswa ke arah belajar mandiri, dapat
membagi waktu secara teratur, memanfaatkan waktu luang, melatih untuk menemukan
sendiri cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan tugas dan memperkaya
pengalaman di sekolah melalai kegiatan di luar kelas (Sri Anitah Wiryawan, 1990:30).
Selanjutnya, metode resitasi terstruktur
ini dianggap efektif Imansyah Alipandie bila hal-hal berikut ini dapat
dilaksanakan yaitu : merumuskan tujuan khusus yang hendak
dicapai, tugas yang diberikan harus jelas, waktu yang disediakan
untuk menyelasaikan tugas harus cukup (Imansyah Alipandie, 1984:93).
Sudirman (1992:145) dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Pendidikan”
langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan pelaksanaan metode resitasi terstruktur
yaitu:
·
Tugas yang diberikan harus jelas
·
Tempat dan lama waktu
penyelesaian tugas harus jelas.
·
Tugas yang diberikan terlebih dahulu
dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa yang belum mampu
memahami tugas itu berupaya untuk menyelesaikannya.
·
Guru harus memberikan bimbingan utamanya kepada siswa
yang mengalami kesulitan belajar atau salah arah dalam mengerjakan tugas.
·
Memberi dorongan terutama bagi siswa yang lambat atau
kurang bergairah mengerjakan tugas (Sudirman, 1992 : 145)
TEKNIK PEMBELAJARAN DEMONSTRASI
Teknik
demonstrasi merupakan teknik mengajar dimana seorang instruktur atau tim guru
menunjukkan, memperlihatkan suatu proses.
Langkah –
langkah pembelajaran demonstrasi :
a.
Perencanaan
Hal yang dilakukan adalah:
·
Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan
atau kegiatan yang diharapkan dapat ditempuh setelah metode demonstrasi
berakhir.
·
Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah
demonstrasi yang akan dilaksanakan.
·
Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan.
·
Selama demonstrasi berlangsung, seorang guru hendaknya
introspeksi diri apakah: Keterangan-keterangannya dapat didengar dengan jelas
oleh peserta didik, Semua media yang digunakan ditempatkan pada posisi yang
baik sehingga setiap peserta didik dapat melihat, peserta didik
disarankan membuat catatan yang dianggap perlu.
·
Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan
peserta didik.
b.
Pelaksanaan
Hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
Hal-hal yang perlu dilakukan adalah:
·
Memeriksa hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.\
·
Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian peserta
didik.
·
Mengingat pokok-pokok materi yang akan
didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran.
·
Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya
mengikuti demonstrasi dengan baik.
·
Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif
memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk
mengajukan pertanyaan.
·
Menghindari ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya
selalu menciptakan suasana yang harmonis.
c.
Evaluasi
Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakah sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.
Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakah sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.
Kelebihan
teknik demonstrasi
·
Perhatian siswa lebih dapat terpusatkan pada pelajaran
yang diberikan
·
Kesalahan-kesalahan yang terjadi bila pelajaran itu
diceramahkan dapat diatasi melalui pengamatan dan contoh yang konkrit
·
Memberi motivasi yang kuat untuk siswa agar lebih giat
belajar
·
Siswa dapat berpartisipasi aktif dan memperoleh
pengalaman langsung.
Kelemahan
teknik demonstrasi
·
Bila alatnya terlalu kecil atau penempatannya kurang
tepat menyebabkan demonstrasi itu tidak dapat dilihat jelas oleh seluruh siswa
·
Bila waktu tidak tersedia cukup, maka demonstrasi akan
berlangsung terputus-putus atau berjalan tergesa-gesa
Metode
ilmiah adalah langkah langkah yang ditempuh oleh peneliti dalam menjawab
pertanyaan pertanyaan atas masalah masalah dan keingintahuan nya terhadap
fenomena fenomena yang terjadi sehingga dihasilkan jawaban yang akurat dan
obyektif sehingga mampu diterima secara universal dan dianggap valid.
Langkah – langkah pembelajaran karya ilmiah :
Langkah – langkah pembelajaran karya ilmiah :
a. Melakukan
identifikasi masalah.
b. Mengumpulkan
data dalam cakupan masalah
c. Memilah data
untuk mencari korelasi, hubungan yang bermakna dan keteraturan
d. Merumuskan
hipotesis (suatu generalisasi) yang merupakan tebakan ilmiah yang menjelaskan
data data yang ada dan menyarankan langkah langkah berikutnya yang harus
dilakukan untuk penelitian yang lebih lanjut
e. Menguji
hipotesis secara setepat mungkin dengan cara mengumpulkan data data baru
f. Melakukan
konfirmasi, modifikasi ataupun menolak hipotesis apabila memperoleh temuan
temuan baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar